djeNews.co – Pematangsiantar
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Sumatera Utara menggelar pertemuan dengan Wartawan Ekonomi BI Pematangsiantar, guna menyampaikan perkembangan ekonomi di wilayah Kerja KPwBI Pematangsiantar, Kamis sore kemarin (25/09/2025).
Dalam pemaparannya, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia-Pematangsiantar, Ahmadi Rahman menyebutkan Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Aqustus 2025, tercatat rendah 2,31% (yoy) didorong inflasi inti dan administered prices (AP) yang menurun. Inflasi inti turun menjadi 2,17% (yoy). Hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah kapasitas, konsistensi suku bunga kebijakan.
Menurutnya, Inflasi kelompok AP menurun menjadi 1,00% (yoy) didorong penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan diskon tiket pesawat dalam rangka peringatan HUT RI 2025. Sementara itu, inflasi kelompok volatile food (VF) meningkat menjadi 4,47% (yoy), didorong terutama kenaikan harga komoditas beras seiring berakhirnya masa panen raya.
Inflasi inti diprakirakan tetap rendah seiring ekspektasi inflasi yang terjangkar dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation yang terkendali, dan dampak positif dari digitalisasi, hal ini di didukung oleh sinergi pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/ITPID), Sementara itu, inflasi VF diprakirakan terkendali dan penguatan implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Peningkatan tekanan inflasi di kota Pematangsiantar dan Kabupaten Labuhanbatu terjadi secara signifikan pada Agustus 2025, gangguan produksi pada komoditas hortikultura menjadi penyebab utama tingginya tekanan inflasi dalam 2 bulan terakhir.
Pada bulan Agustus 2025 Komoditas penyumbang inflasi untuk Kota Pematangsiantar diantaranya Bawang merah sebesar 0,19 persen, cabai merah 0,10 persen dan Daging ayam ras sebesar 0,08 persen. Sementara itu untuk wilayah Kabupaten Labuhanbatu penyumbang inflasi untuk bulan Agustus diantaranya bawang merah sebesar 0,45 persen, cabai rawit 0,44 persen, dan cabai merah 0,33 persen.
Kemudian di jelaskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 September 2025, arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk turut memutuskan untuk menurunkan B-Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75%, suku mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap mempertahankan stabilitas tersebut.
Bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,75%, dan suku bunga Lending didukung dengan langkah-langkah kebijakan diantaranya, Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50%.
Keputusan ini sejalan dengan upaya bersama untuk mendorong pertumbuhan efektivitas transmisi penurunan suku bunga, meningkatkan likuiditas, dan ekonomi dengan menjaga tetap rendahnya prakiraan inflasi 2025 dan 2026, guna mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (valas), dengan sasaran 2,5+1% dan stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya.
“ Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi dalam memanfaatkan ruang penurunan suku bunga BI_-Rate dengan mempertimbangkan stabilitas nilai tukar Rupiah”, sebutnya.
Masih terkait hal tersebut, Ahmadi Rahman menyampaikan sejalan dengan itu, ekspansi likuiditas moneter dan kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk menurunkan suku bunga, meningkatkan likuiditas, dan mendorong kredit/pembiayaan bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.







