Menurutnya, hasil pembekalan harus dapat diterapkan ketika peserta kembali ke daerah masing-masing, terutama melalui kerja nyata dan keterlibatan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
“Diklat ini jangan berhenti sebagai kegiatan seremonial. Yang paling penting adalah bagaimana pengetahuan, kedisiplinan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat diimplementasikan ketika kembali ke tengah masyarakat,” kata Bonauli.
Ia juga mengingatkan peserta agar memahami posisi dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari organisasi.
Menurut Bonauli, kader harus mampu membangun komunikasi yang baik, menjaga disiplin organisasi serta memahami persoalan masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Kader harus hadir, mendengar dan memahami persoalan masyarakat. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah proses kaderisasi adalah kerja nyata setelah kembali ke daerah,” ujarnya.
Bagi Bonauli, proses tersebut menjadi penting karena kader akan berhadapan langsung dengan masyarakat setelah kembali ke daerah masing-masing.
Ia berharap seluruh peserta mampu membawa hasil pendidikan dan pelatihan tersebut menjadi energi positif untuk memperkuat kerja organisasi sekaligus meningkatkan kontribusi sosial.
“Kita ingin kader yang bukan hanya memahami organisasi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat, mampu bekerja sama dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan,” kata Bonauli.
Diklat Laskar Gerindra Sumut di Sibolangit pun menjadi bagian dari proses pembekalan kader yang berlangsung di tengah upaya penguatan konsolidasi organisasi Partai Gerindra di Sumatera Utara. (dj)







