Dari sisi industri, Direktur PT Kawasan Industri Nusantara (Kinra), Alwin Abdi, menyatakan kesiapan pengelola kawasan membuka ruang lebih besar bagi UMKM dan industri kecil menengah lokal untuk masuk dalam rantai pasok industri melalui program Link and Match IKM.

Sementara itu, sektor pertanian Simalungun dinilai memiliki potensi besar menjadi pemasok kebutuhan kawasan. Komoditas pangan, hortikultura hingga kopi berpeluang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan industri dan pasar di sekitar KEK Sei Mangkei.
Namun, persoalan pemasaran, posisi tawar petani dan keterbatasan fasilitas penyimpanan seperti cold storage masih menjadi tantangan.
Peluang juga terbuka pada sektor pariwisata dan jasa. Ketua PHRI Kabupaten Simalungun, Robert Pardede, menyebut mobilitas pekerja dan tamu perusahaan di kawasan industri dapat menciptakan permintaan baru terhadap hotel, restoran, katering dan layanan pariwisata.
Ia mendorong terbentuknya Simalungun Tourism Forum dan Tourism Corridor untuk mengubah mobilitas bisnis menjadi peluang ekonomi pariwisata.
Pemerintah Kabupaten Simalungun menyatakan kesiapan menyiapkan tenaga kerja lokal melalui balai tenaga kerja. Pemerintah juga mendorong petani tidak berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi mulai masuk ke sektor hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk.
Sementara Pemerintah Kota Pematangsiantar berharap keberadaan KEK Sei Mangkei turut memberikan ruang lebih besar bagi tenaga kerja dari wilayah sekitar.
Forum kemudian menyepakati arah pengembangan ekonomi kawasan dengan membagi peran kedua wilayah.
Konektivitas tersebut akan diperkuat melalui business matching dan local procurement antara tenant KEK Sei Mangkei dengan pelaku usaha lokal.
Dengan demikian, KEK Sei Mangkei diharapkan tidak berdiri sebagai kawasan industri yang terpisah dari ekonomi daerah, tetapi menjadi simpul yang menghubungkan industri, pertanian, perdagangan, jasa, tenaga kerja dan pariwisata. (dj)







