djeNews.co – Pematangsiantar
Tekanan harga pangan meningkat pada Agustus 2026, namun inflasi Kota Pematangsiantar masih berada dalam koridor terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan sebesar 0,58 persen (mtm), naik dari 0,31 persen pada Juli.
Secara kumulatif, inflasi Januari-Agustus mencapai 2,76 persen (ytd). Sementara secara tahunan, inflasi tercatat 4,10 persen (yoy), melandai dibandingkan Juli yang mencapai 4,76 persen.
Kenaikan inflasi terutama dipicu harga daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Sebaliknya, penurunan harga tomat, bawang merah, dan bawang putih turut menahan laju inflasi.
Tekanan pangan bahkan lebih tinggi terjadi di Kabupaten Labuhanbatu, dengan inflasi Agustus mencapai 1,69 persen (mtm), melonjak dari 0,15 persen pada Juli. Secara tahunan, inflasi Labuhanbatu tercatat 5,10 persen, turun dari 5,52 persen pada bulan sebelumnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Ahmadi Rahman, mengatakan tekanan inflasi masih didominasi kelompok pangan bergejolak (volatile food). Kondisi tersebut dipengaruhi peningkatan kebutuhan masyarakat, dinamika pasokan di sentra produksi, serta dampak cuaca dan kemarau periode sebelumnya.
“Tekanan inflasi masih bersumber dari kelompok pangan bergejolak, khususnya daging ayam ras dan cabai rawit. Karena itu, sinergi pengendalian inflasi perlu terus diperkuat agar tekanan harga dapat diantisipasi lebih awal,” ujar Ahmadi.






