“Lomba ini mengajak masyarakat mengenal alternatif penyimpanan dan pemanfaatan cabai yang lebih praktis dan efisien,” tukasnya.

Ditegaskan nya, Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) bukan hanya menanam sayur di halaman. Ini adalah gerakan kemandirian pangan dari tingkat keluarga. Melalui P2L, kita sudah melihat pekarangarn menjadi kebun gizi, KWT menjadi motor penggerak ekonomi dan sosial, dan hasil panen tidak hanya dikonsumsi, tapi dijual, diolah, dan dikembangkan.
“Hari ini, kita memberikan apresiasi kepada KWT dan masyarakat yang telah
membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa dibangun tanpa menunggu lahan luas-
cukup dengan niat, kreativitas, dan kolaborasi”, papar Yudha lagi.
Masih menurutnya, P2L juga berkontribusi terhadap pengendalian inflasi, khususnya komoditas hortikultura, karena pasokan dapat tersedia secara mandiri sehingga dapat menyeimbangkan dengan
kondisi supply demand di pasar.
Diharapkan, melalui Hari Pangan Sedunia 2025 ini, kita ingin menyampaikan pesan bahwa pangan lokal adalah kekuatan kita, pekarangan adalah benteng ketahanan kita dan diversifikasi adalah masa depan kita.
“Mari kita jaga Siantar bukan hanya sebagai kota kuliner, tetapi sebagai kota yang mandiri pangan, sehat, stabil, dan sejahtera”, tutupnya. (dj)






