Operasi Modifikasi Cuaca ini dinilai sangat krusial dan efektif karena dilakukan setelah agenda revalidasi status Toba sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark pada 21–25 Juli lalu. Keberhasilan modifikasi cuaca ini tidak hanya penting untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah kabut asap, tetapi juga menjaga reputasi Danau Toba sebagai kawasan strategis pariwisata nasional.
“Pemerintah berharap, langkah ini dapat menekan jumlah titik api, menjaga status Toba Kaldera sebagai warisan dunia, serta melindungi kesehatan masyarakat dan stabilitas ekonomi wilayah Sumatera Utara,” tutup Edison.
Kepala Stasiun BMKG Silangit, Gatot Rudiantoro, turut menjelaskan bahwa pada hari ketiga (28 Juli), direncanakan tiga kali penerbangan dengan kapasitas 800 kg garam per penerbangan, dan kegiatan ini akan berlanjut hingga 31 Juli 2025.
“Tidak ada kendala teknis. Seluruh persiapan berjalan lancar,” kata Gatot.
Hasil awal menunjukkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang mulai turun di beberapa titik wilayah Danau Toba, termasuk bagian selatan Toba dan Tapanuli Utara, dengan cakupan volume air hujan sebesar 2.04 Juta m3 dan tingkat kenaikan curah hujan sebesar 25% wilayah target. (dj)






