Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Pematangsiantar Agustina Sihombing dalam pemaparannya menjelaskan bagaimana penyelengaraan penanggulangan bencana, termasuk upaya pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan sebelum dan setelah terjadinya bencana. Agustina menyebutkan, pengurangan risiko bencana merupakan kegiatan guna memperkecil ancaman, dan mengurangi kerentanan serta meningkatkan kapasitas dalam masyarakat.
“ Kegiatan ini perlu di lakukan, karena semua jenis bencana ada di Indonesia. Gempa bumi , tsunami , dan longsor yang sekarang ini kerap terjadi, karena memang kita masuk didalam fase hujan lebat. Bahkan seperti prediksi BMKG bahwa bencana akan terjadi sampai Maret 2025 mendatang”, ungkap Agustina.
Selanjutnya Agustina menyebutkan, kenapa Indonesia menjadi rawan bencana terutama gempa, karena letak Indonesia berada di tiga lempeng tektonik utama yang aktif yaitu Erosia, Pasifik, Hindi Australia. “Indonesia rawan bencana karena terletak di tiga lempeng Erosia, Pasifik, dan Hindi Australia yang aktif, selain itu Indonesia juga rawan gempa bumi dan juga gunung meletus”, paparnya.
Ditambahkannya lagi, dalam situasi penanganan tanggap darurat, diperlukan kajian cepat dan tepat terhadaplokasi becnana, jumlah korban dan kerusakan yang terjadi akibat bencana tersebut, kemampuan sumber daya, dan penyelamatan serta perlindungan terhadap korban.
“Kita berharap agar kota Pematangsiantar jauh dari terjadinya bencana apapun, namun dengan adanya simulasi dan pertemuan ini kita dapat belajar dan memahami perlunya antisipasi dan tindakan yang di lakukan saat terjadinya bencana, hingga pemulihan pasca terjadinya bencana”, tutup Agustina.
Usai pemaparan penanggulangan bencana, kegiatan pun kemudian di lanjutkan dengan penjelasan dan pembelajaran bagaimana penanggulangaan terjadinya peristiwa kebakaran dan di lanjutkan dengan tanya jawab para peserta. ( dj )






