“Dalam konteks inilah, Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) memiliki peran yang sangat penting. P2L bukan hanya sekadar kegiatan bercocok tanam di halaman rumah, melainkan gerakan nyata yang mampu memperkuat kemandirian pangan keluarga, mengurangi pengeluaran rumah tangga, sekaligus mendukung pengendalian inflasi di daerah kita”, papar Ahmadi Rahman.
Ahmadi menambahkan, dengan memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan sehat dan berkelanjutan, kita tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga berkontribusi langsung menjaga stabilitas harga bahan pangan di masyarakat.
“Peran Kelompok Wanita Tani dalam program ini sungguh strategis. Bukan
hanya sebagai penggerak, tetapi juga sebagai teladan bagi masyarakat luas
dalam mengelola pekarangan menjadi sumber pangan, gizi, bahkan pendapatan tambahan. Diharapkan, melalui pelatihan yang akan kita ikuti bersama ini, pengetahuan dan keterampilan Ibu-lbu sekalian akan semakin meningkat, sehingga hasilnya dapat dirasakan langsung oleh keluarga dan lingkungan sekitar”, imbuhnya.
Selain itu, Ahmadi menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan kontribusi dari civitas akademika USU , bukan hanya menambah wawasan dan pengetahuan bagi para peserta, tetapi juga menjadi wujud nyata sinergi antara dunia pendidikan dan masyarakat dalam mendorong kemandirian pangan serta keberlanjutan lingkungan.
“Saya juga ingin menekankan bahwa kerja sama dan sinergi adalah kunci keberhasilan. Pemerintah daerah, kelompok tani, akademisi serta seluruh elemen masyarakat harus berjalan beriringan dalam menghadapi tantangan pangan.
Dengan semangat gotong royong dan inovasi, mampu menjadi contoh daerah yang tangguh dalam menjaga ketahanan pangan dari ancaman inflasi maupun perubahan kondisi global”, tutupnya. (dj)






