Selanjutnya Muqorobin menyebutkan, untuk wilayah Kabupaten Labuhanbatu mengalami Deflasi -1,00% (mtm), 1,22% (yoy), 1,41% (ytd). Sedangkan untuk Sumatera Utara mengalami Deflasi -0,82% (mtm), 2,06% (yoy), 0,81% (ytd)*Nasional Deflasi -0,18% (mtm); 2,13% (yoy); 0,89% (ytd).
“Untuk Kabupaten Labuhanbatu, komoditas dengan andil deflasi terbesar , Cabai Merah -0,48%, Bawang Merah -0,29%, Daging Ayam Ras -0,15%, Tomat -0,14% dan Ikan Lele -0,14%. Sementara untuk komoditas dengan andil inflasi terbesar di dominasi Cabai Rawit 0,12%, Seragam Sekolah Anak 0,06%, Beras 0,05%, Sarung 0,04% dan Bawang Putih 0,04%”, papar Muqorobin.
Ditambahkannya, terjadinya deflasi khususnya pada penurunan harga cabai merah dan bawang merah disebabkan oleh faktor meningkatnya stok akibat panen raya cabai merah dan bawang merah di wilayah Simalungun dan sekitarnya.
Disisi lain peran TPID semakin matang dengan mampu mempersiapkan kemungkinan kenaikan harga pada Semester II 2024 dengan mengadakan kegiatan pasar murah, Kerja Sama Antar Daerah (KAD), rapat koordinasi dan HLM serta gerakan tanam. Sementara itu kenaikan harga beras secara tren historis diperkirakan akan naik selama Semester II 2024, dimana harga berfluktuasi mengikuti kondisi pasokan panen beras. ( dj)






