Pematangsiantar, djeNews.co
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Pematangsiantar memastikan tekanan inflasi di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Labuhanbatu sepanjang Juli 2026 masih berada dalam kondisi terkendali. Meski harga sejumlah komoditas pangan strategis mengalami kenaikan, laju inflasi tahunan di kedua daerah menunjukkan tren perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga pangan, serta tantangan distribusi domestik yang masih membayangi perekonomian nasional. Untuk menjaga momentum tersebut, KPwBI Pematangsiantar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi melalui berbagai langkah pengendalian inflasi.
Menurut Ahmadi Rahman, selaku Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar Kamis (06/08/26) menyebutkan, inflasi Juli 2026 tercatat sebesar 0,31 persen (month to month/mtm), meningkat dibandingkan Juni 2026 yang mengalami deflasi sebesar 0,07 persen (mtm). Meski demikian, inflasi tahunan (year on year/yoy) turun menjadi 4,76 persen, dari 5,26 persen pada bulan sebelumnya. Sementara inflasi tahun berjalan (year to date/ytd) mencapai 2,18 persen.
Adapun Kabupaten Labuhanbatu membukukan inflasi sebesar 0,15 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi Juni 2026 yang mencapai 0,50 persen (mtm). Inflasi tahunan juga melandai menjadi 5,52 persen (yoy) dari sebelumnya 5,81 persen (yoy), sedangkan inflasi tahun berjalan tercatat 1,72 persen (ytd).
Beras dan Cabai Rawit Jadi Pemicu
Di Kota Pematangsiantar, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap kenaikan harga adalah beras, cabai rawit, dan daging ayam ras. Sebaliknya, penurunan harga emas perhiasan, bawang merah, dan jeruk turut menahan laju inflasi.
Sementara di Kabupaten Labuhanbatu, kenaikan harga terutama berasal dari cabai rawit, beras, dan ikan mujair, sedangkan bawang merah, telur ayam ras, dan emas perhiasan menjadi komoditas yang membantu meredam tekanan inflasi.

“Secara keseluruhan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga masih terkonsentrasi pada komoditas pangan strategis, terutama beras dan cabai rawit, namun masih dapat dikendalikan melalui kebijakan yang tepat”, sebut Ahmadi.






